trafik

trafik

backlink backlink

Friday, February 5, 2010

link blogroll

|jogjacafe33|freesoft4all|ripmaggots|allabout-news|ilhamsnapshots|abbasdoing|askmsrecipe|bunda-daffa|
A abdel_temon bukan super stars | www.ads.prodinar.com | www.ads.profitreload.com | anti cukur | arthazone | arisanmatrix | arisan-matrix | mall arthagading | arisan-bca | arisan-mandiri | arthasewu jual dinar iraq | arisanspektakuler | alexaprofit | arisanspektakuler | axisword |
B bisa dirubah | benefitsite | bisnis arisan | BURSA DINAR jual dinar iraq | BISNIS-INVESTOR |
C citikey |
D my dreams | dekco | depositekstra | partai kebangkitan bangsa |
E extravaganza-transtv | ekstravaganza-transtv | ekstravaganza forex profile info |
F fatary forex info | forum komunitas google international |
G gadis-bali | investor bisnis | go-investor | go-to-dubai | Partai Gerindra Gerakan Indonesia Raya | guebanget | gamextream | game ekstra | forum komunitas google international |
H hati ibu yang bahagia | partai hanura hati nurani rakyat |
I iklan001 iklan baris tanpa daftar | iklan22 iklanbaris tanpa daftar | iklan33 iklan baris tanpa daftar | iklansindo promosi tanpa daftar tampil selamanya | iklan003 iklan gratis tanpa daftar | iklan77 iklan baris tanpa daftar | iklan11 | iklan004 iklan gratis tanpa daftar | iklan009 | iklan005 | iklanbalikpapan | iklanbetawi iklanye anak jakarte ncang ncing nyak babe | iklan99 iklan gratis tanpa daftar | iklanabadi | iklan006 iklan baris tanpa daftar tampil selamanya | iklanalexa iklan baris gratis tanpa daftar | iklan007 iklan baris tanpa daftar blogspot | iklan69 | iklan002 iklan gratis tanpa daftar | iklan008 iklan baris blog tanpa daftar | iklan000 iklan gratis tanpa daftar |
J
A abdel_temon bukan super stars | www.ads.prodinar.com | www.ads.profitreload.com | anti cukur | arthazone | arisanmatrix | arisan-matrix | mall arthagading | arisan-bca | arisan-mandiri | arthasewu jual dinar iraq | arisanspektakuler | alexaprofit | arisanspektakuler | axisword |
B bisa dirubah | benefitsite | bisnis arisan | BURSA DINAR jual dinar iraq | BISNIS-INVESTOR |
C citikey |
D my dreams | dekco | depositekstra | partai kebangkitan bangsa |
E extravaganza-transtv | ekstravaganza-transtv | ekstravaganza forex profile info |
F fatary forex info | forum komunitas google international |
G gadis-bali | investor bisnis | go-investor | go-to-dubai | Partai Gerindra Gerakan Indonesia Raya | guebanget | gamextream | game ekstra | forum komunitas google international |
H hati ibu yang bahagia | partai hanura hati nurani rakyat |
I iklan001 iklan baris tanpa daftar | iklan22 iklanbaris tanpa daftar | iklan33 iklan baris tanpa daftar | iklansindo promosi tanpa daftar tampil selamanya | iklan003 iklan gratis tanpa daftar | iklan77 iklan baris tanpa daftar | iklan11 | iklan004 iklan gratis tanpa daftar | iklan009 | iklan005 | iklanbalikpapan | iklanbetawi iklanye anak jakarte ncang ncing nyak babe | iklan99 iklan gratis tanpa daftar | iklanabadi | iklan006 iklan baris tanpa daftar tampil selamanya | iklanalexa iklan baris gratis tanpa daftar | iklan007 iklan baris tanpa daftar blogspot | iklan69 | iklan002 iklan gratis tanpa daftar | iklan008 iklan baris blog tanpa daftar | iklan000 iklan gratis tanpa daftar |
J
K karyarahayu | kungfu panda movie | kliksaya klik saya | klub-investor | koransindo |
L LABEL-LINK | bisnis indonesia | love-story 17 cerita sex |
M mediasumsel | mobilequcolony |
N
O ojie-oblong | otobemo |
P prodinar jual dinar iraq | Partai Perjuangan Indonesia Baru | profitreload NETWORK BISNIS POPULER | purnomo-singgih | prudential syariah life insurance | raizandrabar | partai kebangkitan bangsa | pt primanur panurjwan | prodinar agen jual dinar iraq nusantara |
Q
R reghyip | rahasia-marketing |
S sandra angelia | syariah prudential life insurance | suami suami takut isteri | sukses-trading | shinarpulsa free ads no register | sandra angelia | suamisuamitakuti... | sukses-investor | diskon cash/credit |
T targetpositif | tokojadi | toko-jadi | tvone | time-3511 enjoy your time travel | tahitiannoni |
U
V
W withmeus | wartabali | wartakota |
X
Y forum sahabat yahoo
Z Zivanna Letisha Siregar | free movie box office hit info |

daftar isi

Thursday, May 14, 2009

Bercinta dengan guru bahasa inggris

Sejalan dengan waktu, kini aku bisa kuliah di universitas keinginanku. Namaku Jack, sekarang aku tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Kupikir aku cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aku mempunyai penghasilan tinggi.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aku bertemu dengan guru bahasa inggrisku, kami ngobrol dengan akrabnya. Ternyata Ibu Shinta masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas. Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aku SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aku ngobrol dengan Ibu Shinta, kami rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.

Tiba-tiba Ibu Shinta teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kami terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kami berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Shinta pun mengambil tasnya kemudian aku teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan teman-teman. Lamunanku buyar ketika Ibu Shinta memanggilku.

"Kenapa Jack"
"Ah.. tidak apa-apa", jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat hasratku bergejolak apalagi ada Ibu Shinta di sampingku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
"Ayo Jack kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan", kata Ibu Shinta.
"Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya", jawabku dengan ragu-ragu.
"Terima kasih Jack".

Tanpa sengaja aku mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Shinta bahwa aku suka kepadanya, "Oh my God what i'm doing", dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Shinta terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aku panik dan berusaha minta maaf. Ibu Shinta ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aku tertegun dengan pernyataan Ibu Shinta. Kami berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Shinta mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aku semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Shinta menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Shinta, dengan cepat Ibu Shinta hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Shinta menciumku dan aku pun membalasnya.

Ohh.., alangkah senangnya aku ini, lalu dengan cepat aku menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Shinta tak mau kalah, ia menciumku dengan hasrat yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aku menyusuri dadanya yang besar, Ibu Shinta terengah sehingga ciuman kami bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Shinta memainkan tangannya ke arah batang kemaluanku sehingga aku sangat terangsang. Lalu aku meminta Ibu Shinta membuka bajunya, satu persatu kancing bajunya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh hasrat. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Karena tidak sabar maka kucium lehernya dan kini Ibu Shinta setengah telanjang, aku tidak mau langsung menelanjanginya, sehingga perlahan-lahan kunikmati keindahan tubuhnya. Aku pun membuka baju sehingga badanku yang tegap dan atletis membangkitkan gairah Ibu Shinta, "Jack kukira Ibu mau bercinta denganmu sekarang.., Jack, tutup pintunya dulu dong", bisiknya dengan suara agak bergetar, mungkin menahan birahinya yang juga mulai naik.

Tanpa disuruh dua kali, secepat kilat aku segera menutup pintu depan. Tentu agar keadaan aman dan terkendali. Setelah itu aku kembali ke Ibu Shinta. Kini aku jongkok di depannya. Menyibak rok mininya dan merenggangkan kedua kakinya. Wuih, betapa mulus kedua pahanya. Pangkalnya tampak menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang amat minim. Sambil mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas liang senggamanya dan klitorisnya yang juga besar. Lidahku makin naik ke atas. Ibu Shinta menggelinjang kegelian sambil mendesah halus. Akhirnya jilatanku sampai di pangkal pahanya.

"Mau apa kau sshh... sshh", tanyanya lirih sambil memegangi kapalaku erat-erat.
"Ooo... oh.. oh..", desis Ibu Shinta keenakan ketika lidahku mulai bermain-main di gundukan liang kenikmatannya. Tampak dia keenakan meski masih dibatasi celana dalam.

Serangan pun kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Sekarang perangkat rahasia miliknya berada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai dengan dugaanku. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut yang tidak begitu lebat. Lidahku kemudian bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk ke dalam dengan gerakan-gerakan melingkar yang membuat Ibu Shinta makin keenakan, sampai harus mengangkat-angkat pinggulnya. "Aahh... Kau pintar sekali. Belajar dari mana hh..."

Tanpa sungkan-sungkan Ibu Shinta mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celanaku yang menonjol akibat batang kemaluanku yang ereksi maksimal, meremas-remasnya beberapa saat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku segera menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit sampai dia seperti hendak tersendak. Semula Ibu Shinta seperti akan memberontak dan melepaskan diri, tapi tak kubiarkan. Mulutku seperti melekat di mulutnya. "Uh kamu pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu?", tanyanya diantara kecipak ciuman yang membara dan mulai liar. Aku tak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan kedua payudaranya yang tampak menggairahkan itu. Biar tidak merepotkanku, BH-nya kulepas. Kini dia telanjang dada. Tak puas, segera kupelorotkan rok mininya. Nah kini dia telanjang bulat. Betapa bagus tubuhnya. Padat, kencang dan putih mulus.

"Nggak adil. Kamu juga harus telanjang.." Ibu Shinta pun melucuti kaos, celanaku, dan terakhir celana dalamku. Batang kemaluanku yang tegak penuh segera diremas-remasnya. Tanpa dikomando kami rebah di atas ranjang, berguling-guling, saling menindih. Aku menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kenikmatan miliknya. Tanpa ampun lagi mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Shinta mulai mengeluarkan jeritan-jeritan tertahan menahan nikmat. Hampir lima menit kami menikmati permainan itu. Selanjutnya aku merangkak naik. Menyorongkan batang kemaluanku ke mulutnya.

"Gantian dong.." Tanpa menunggu jawabannya segera kumasukkan batang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Semula agak kesulitan, tetapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri sehingga tak lama batang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. "Justru di situ nikmatnya.., Selama ini sama suami main seksnya gimana?", tanyaku sambil menciumi payudaranya. Ibu Shinta tak menjawab. Dia malah mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku pun secara bergantian memainkan kedua payudaranya yang kenyal dan selangkangannya yang mulai basah. Aku tahu, perempuan itu sudah kepengin disetubuhi. Namun aku sengaja membiarkan dia menjadi penasaran sendiri.

Tetapi lama-lama aku tidak tahan juga, batang kemaluanku pun sudah ingin segera menggenjot liang kenikmatannya. Pelan-pelan aku mengarahkan barangku yang kaku dan keras itu ke arah selangkangannya. Ketika mulai menembus liang kenikmatannya, kurasakan tubuh Ibu Shinta agak gemetar. "Ohh...", desahnya ketika sedikit demi sedikit batang kemaluanku masuk ke liang kenikmatannya. Setelah seluruh barangku masuk, aku segera bergoyang naik turun di atas tubuhnya. Aku makin terangsang oleh jeritan-jeritan kecil, lenguhan serta kedua payudaranya yang ikut bergoyang-goyang.

Tiga menit setelah kugenjot, Ibu Shinta menjepitkan kedua kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Tampaknya dia akan orgasme. Genjotan batang kemaluanku kutingkatkan. "Ooo... ahh... hmm... ssshh...", desahnya dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia menikmati orgasmenya beberapa saat. Kuciumi pipi, dahi, dan seluruh wajahnya yang berkeringat. "Sekarang Ibu Shinta berbalik. Menungging di atas meja.., sekarang kita main dong di atas meja ok!" Aku mengatur badannya dan Ibu Shinta menurut. Dia kini bertumpu pada siku dan kakinya. "Gaya apa lagi ini?", tanyanya.

Setelah siap aku pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Shinta kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kami istirahat.
"Capek?", tanyaku. "Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku".
"Tapi kan nikmat Bu..", jawabku sambil kembali meremas payudaranya yang menggemaskan.
"Ya deh kalau capek. Tapi tolong sekali lagi, aku pengin masuk agar spermaku keluar. Nih sudah nggak tahan lagi batang kemaluanku. Sekarang Ibu Shinta yang di atas", kataku sambil mengatur posisinya.

Aku terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang batang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Shinta tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan jeritannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aku belum apa-apa. Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Shinta kurebahkan dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks aku meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan batang kemaluanku. "Oh Ibu Shinta.., aku mau keluar nih ahh.." Tak lama kemudian spermaku muncrat di dalam liang kenikmatannya. Ibu Shinta kemudian menyusul mencapai klimaks. Kami berpelukan erat. Kurasakan liang kenikmatannya begitu hangat menjepit batang kemaluanku. Lima menit lebih kami dalam posisi rileks seperti itu.

Kami berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kami rasakan. Setelah itu kami bangun di pagi hari, kami pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Shinta harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.

Sore telah tiba, Ibu Shinta kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kami pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kami beraksi kembali, aku mulai menciumi lehernya. Ibu Shinta mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Shinta makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang. "Uuuhh.., mmmhh..", Ibu Shinta menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aku pun membuka dengan paksa baju dan rok mininya.

Aaahh..! Ibu Shinta dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aku segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Shinta mengelus bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aku menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Akupun segera membenamkan kepalaku ke tengah ke dua pahanya. "Ehhh..., mmmhh..". Tangan Ibu Shinta meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.

"Ooohh.., aduuuhh..". Ibu Shinta mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Shinta terlonjak dan nafas Ibu Shinta seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Shinta tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Shinta. "Mmmhh..., mmmhh.., ooohhm..". Ketika Ibu Shinta membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. "Oouuuh Ibu Shinta.., enaaaak.., teruuuss...", erangku.

Ibu Shinta terus mengisap batang kemaluanku sambil tangannya mengusap liang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan batang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap batang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar. "Ibu Shinta.., ooohh.., enaaak.., teruuus", teriakku. Dia mengerti kalau aku mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan liang kenikmatannya, aku lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu.., "Creet.., suuurr.., ssuuur.."

"Oughh.., Jack.., nikmat..", erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh batang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aku juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya, "Crooot.., croott.., crooot..", banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.

"Aaahkk.., ooough", ujarku puas. Aku masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, akupun naik ke atas tubuh Ibu Shinta dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Shinta dan aroma kemaluan Ibu Shinta di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Shinta, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Shinta menekan pantatku dari belakang. "Ohm, masuk.., augh.., masukin"

Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke liang kemaluannya dan Ibu Shinta semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Shinta memekik kecil. Aku menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau, "Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Jack"

Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Shinta, lalu membalikkan kedua tubuh kami sehingga Ibu Shinta sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Shinta segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kamipun berlomba mencapai puncak.

Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Shinta makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kami saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Shinta melemas, aku mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aku mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ibu Shinta tentu merasakan siraman air maniku di liang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

Maling pemerkosa

Tiba-tiba sebuah suara keras membangunkan kami di tengah malam. Fatimah istriku memeluk lenganku saking ketakutannya. Suara itu datang dari arah dapur. Sepertinya kaca yang jatuh berantakan. Naluriku mengatakan ada hal yang tak beres ada di dalam rumah ini. Aku bangun dan menyalakan lampu. Istriku berusaha menahan aku. Dengan hati-hati aku bangun dan membuka pintu dan melangkah ke dapur.

Aku kaget dengan ketakutan yang amat saat muncul sosok asing di bawah jendela dapurku. Nampak di lantai kaca jendela pecah berserakan. Pasti dia ini maling yang hendak mencuri di rumah kami. Sama-sama
kaget dengan gesitnya pencuri ini berdiri dan melangkah pendek menyambar pisau dapur kami yang tidak jauh dari tempatnya. Orang ini lebih gede dari aku. Dengan rambut dan jambangnya yang nggak bercukur nampak begitu sangar. Dengan pakaiannya yang T. Shirt gelap dan celana jean bolong-bolong dia menyeringai mengancam aku dengan pisau dapur itu.


Aku memang lelaki yang nggak pernah tahu bagaimana berkelahi. Melihat ulah maling ini langsung nyaliku putus. Dengan gemetar yang sangat aku berlari kembali ke kamar tidurku dan menutup pintunya. Namun kalah cepat dengan maling itu. Aku berusaha keras menekan untuk mengunci sebaliknya maling itu terus mendorong dengan kuatnya. Istriku histeris berteriak-teriak ketakutan,

“Ada apa Maass.. Toloonngg.. Tolongg..”

Namun teriakan itu pasti sia-sia. Rumah kami adalah rumah baru di perumahan yang belum banyak penghuninya. Tetangga terdekat kami adalah Pak RT yang jaraknya sekitar 30 rumah kosong, yang belum berpenghuni, dari rumah kami. Sementara di arah yang berbeda adalah bentangan kali dan sawah yang luas berpetak-petak. Sejak pernikahan kami 2 tahun yang lalu, inilah rumah kredit kami yang baru kami tinggali selama 2 bulan ini.

Upaya tarik dan dorong pintu itu dengan pasti dimenangkan oleh si maling. Aku terdepak jatuh ke lantai dan maling itu dengan leluasa memasuki kamar tidur kami. Dia mengacung-acungkan pisau dapur ke isteriku agar tidak berteriak-teriak sambil mengancam hendak memotong leherku. Istriku seketika ‘klakep’ sepi. Sambil menodongkan pisau ke leherku dengan kasar aku diraihnya dengan menarik bajuku keluar dari kamar. Matanya nampak menyapu ruangan keluarga dan menarikku mendekat ke lemari perabot. Pasti di nyari-nyari benda berharga yang kami simpan.

Dia menemukan lakban di tumpukkan macam-macam peralatan. Dengan setengah membanting dia mendorong aku agar duduk di lantai. Dia me-lakban tangan dan kakiku kemudian mulutku hingga aku benar-benar bungkem. Dalam keadaan tak berkutik aku ditariknya kembali ke kamar tidurku. Istriku kembali berteriak sambil menangis histeris. Namun itu hanya sesaat.

Maling ini sungguh berpengalaman dan berdarah dingin. Dia hanya bilang,
“Diam nyonya cantiikk.. Jangan membuat aku kalap lhoo..” kembali istriku ‘klakep’ dan sepi.

Nampak maling itu menyapukan pandangannya ke Kamar tidurku. Dia melihati jendela, lemari, tempat tidur, rak kset dan pesawat radio di kamarku. Dia sepertinya berpikir. Semuanya kusaksikan dalam kelumpuhan dan kebisuanku karena lakban yang mengikat kaki tanganku dan membungkam rapat mulutku.

Tiba-tiba maling itu mendekati Fatimah istriku yang gemetar menggulung tubuhnya di pojok ranjang karena shock dan histeris dengan peristiwa yang sedang terjadi. Dengan lakbannya dia langsung bekap mulutnya dan direbahkannya tubuhnya di ranjang. Aku tak kuasa apa-apa hanya mampu tergolek dan berkedip-kedip di lantai. Aku melihat bagaimana sorot mata ketakutan pada wajah Fatimah istriku itu.

Ternyata maling itu merentangkan tangan istriku dan mengikatnya terpisah di kanan kiri kisi-kisi ranjang kayu kami. Demikian pula pada kakinya. Dia rentangkan dan ikat pada kaki-kaki ranjang. Dan akhirnya yang terjadi adalah aku yang tergolek lumpuh di lantai sementara Fatimah istriku telentang dan terikat di ranjang pengantin kami.

Perasaanku sungguh tidak enak. Aku khawatir maling ini berbuat diluar batas. Melihat sosoknya, nampak dia ini orang kasar. Tubuhnya nampak tegar dengan otot-ototnya yang membayang dari T. Shirt dekilnya. Aku taksir tingginya ada sekitar 180 cm. Aku melihati matanya yang melotot sambil menghardik,
“Diam nyonya cantiikk..” saat melihat istriku yang memang nampak sangat seksi dengan pakaian tidurnya yang serba mini karena udara panas di kamar kami yang sempit ini.

“Aku mau makan dulu ya sayaang.. Jangan macam-macam”. Dia nyelonong keluar menuju dapur. Dasar maling nggak bermodal. Dia ngancam pakai pisauku, ngikat pakai lakbanku sekarang makan makananku.

Nampak istriku berontak melepaskan diri dengan sia-sia. Sesekali nampak matanya cemas dan ketakutan Memandang aku. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku dengan maksud melarangnya bergerak banyak. Hemat tenaga.

Sesudah makan maling itu gelatakan membukai Berbagai lemari dan laci-laci di rumah. Dia nggak akan dapatkan apa-apa karena memang kami nggak punya apa- apa. Aku bayangkan betapa wajahnya akan kecewa karena kecele. Kudengar suara gerutu. Nampaknya dia marah.

Dengan menendang pintu dia kembali masuk kamar tidur kami. Membuka lemari pakaian dan mengaduk-adukkannya. Dilempar-lemparkannya isi lemari hingga lantai penuh berserakan. Dia buka kotak perhiasan istriku. Dibuang-buangnya perhiasan imitasi istriku.

Karena tak mendapatkan apa yang dicari Maling mengalihkan sasaran kekecewaan. Dia pandangi istriku yang telentang dalam ikatan di ranjang. Dia mendekat sambil menghardik,

“Mana uang, manaa..? Dasar miskin yaa..? Kamu umpetin dimana..?”

Tangannya yang mengkilat berotot bergerak meraih baju tidur istriku kemudian menariknya dengan keras hingga robek dan putus kancing-kancingnya. Dan yang kemudian nampak terpampang adalah bukit kembar yang begitu indah. Payudara Fatimah yang sangat ranum dan padat yang memang selalu tanpa BH setiap waktu tidur. Nampak sekali wajah maling itu terkesima.

Kini aku benar-benar sangat takut. Segala Kemungkinan bisa terjadi. Aku saksikan adanya perubahan raut mukanya. Sesudah tidak mendapatkan uang atau benda berharga dia jadi penasaran. Dia merasa berhak mendapat pengganti yang setimpal. Maling itu lebih mendekat lagi ke Fatimah dan dengan terus memandangi buah dadanya yang sangat sensual itu. Pelan-pelan dia duduk ditepian ranjang.

“Dimana kamu simpan uangmu nyonya cantiikk..?” sambil tangan turun menyentuh tubuh Fatimah yang sama sekali tak bisa menolak karena kaki dan tangannyaterikat lakban itu. Dan tangan itu mulai mengelusi dekat Payudaranya.

Ampuunn.. Kulihat bagaimana mata Fatimah demikian paniknya. Dia merem memejamkan matanya sambil Memperdengarkan suara dari hidungnya,
“Hheehh.. Hheehh.. Heehh..”.
Istriku mengeluarkan air mata dan menangis, menggeleng-geleng kepalanya sambil mengeluarkan dengus dari hidungnya.

Dan sentuhan maling itu tidak berhenti di tempat. Air mata istriku merangsang dia semakin brutal. Tangan-tangannya dengan tanpa ragu mengelus- elus dan kemudian meremas-remas buah dada Fatimah serta bagian tubuh sensitive lainnya. Hal ini benar-benar membuat darahku menggelegak marah. Aku harus berbuat sesuatu yang bias menghentikan semua ini apapun risikonya. Yang kemudian bisa kulakukan adalah menggerakkan kakiku yang terikat, menekuk dan kemudian menendangkan ke tepian ranjangku. Maling itu terkaget namun sama sekali tidak bergeming.

“Hey, brengsek. Mau ngapain kamu. Jangan macam-macam. Jangan ganggu istrimu yang sedang menikmati pijitanku,”dia menghardik aku. Dan aku memang langsung putus asa. Aku tak mungkin berbuat apa-apa lagi. Kini hanya batinku yang meratapi kejadian ini.

Dan yang terjadi berikutnya adalah sesuatu Yang benar-benar mengerikan. Maling itu menarik robek seluruh busana tidur istriku. Dia benar-benar membuat Fatimah telanjang kecuali celana dalamnya. Lantas dia rebah merapatkan tubuhnya disampingnya. Istriku nampak bak rusa rubuh dalam terkaman serigala. Dan kini pemangsanya mendekat untuk mencabik-cabik untuk menikmati tubuhnya.

Dari matanya mengalir air mata dukanya. Dia tak mampu berpuat apa-apa lagi. Dalam setengah telanjangnya aku kian menyadari betapa cantiknya Fatimah istriku ini. Dia tunjukkan betapa bagian-bagian tubuhnya menampilkan sensualitas yang pasti menyilaukan setiap lelaki yang memandangnya. Rambutnya yang mawut terurai, pertemuan lengan dan bahu melahirkan lembah ketiak yang bias menggoyahkan iman para lelaki.

Payudaranya yang membusung ranum dengan pentilnya yang merah ungu sebesar ujung jari kelingking sangat menantang. Perut dengan pinggulnya yang.. Uuhh.. Begitu dahsyat mempesona syahwat. Aku sendiri terheran bagaimana aku bisa menyunting dewi secantik ini.

Dan kini maling brutal itu menenggelamkan mukanya ke dadanya. Dia menciumi dan menyusu Payudaranya seperti bayi. Dia mengenyoti pentil istriku yang nampaknya berusaha berontak dengan menggeliat-geliatkan tubuhnya yang dipastikan sia-sia. Dengan semakin beringas nafsu nyolongnya kini berubah menjadi nafsu binatang yang dipenuhi birahi.

Dengan gampang dia menjelajahkan moncongnya ke sekujur tubuh Fatimah. Dia merangsek menjilat-jilat dan menciumi ketiak istriku yang sangat sensual itu. Inilah pesta besarnya. Dia mungkin tak pernah membayangkan akan mencicipi nikmat tidur dengan perempuan secantik Fatimah istriku ini.

Menjarah dengan kenyotan, jilatan dan ciumannya maling ini merangsek ke tepian pinggul Fatimah dan kemudian naik ke perutnya. Dengan berdengus-dengus dan nafasnya yang memburu dia menjilati puser Fatimah sambil tangannya gerayangan ke segala arah meremas dan nampak terkadang sedikit mencakar menyalurkan gelegak nafsu birahinya.

Perlawanan istriku sudah sangat melemah. Yang terdengar hanyalah gumam dengus mulut tersumpal sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan penolakannya. Mungkin ketakutan serta kelelahannya membuat stamina-nya ‘down’ dan lumpuh. Sementara sang maling terus melumati perut dan menjilat- jilat bagian-bagian sensual tubuhnya.

Kebringasan serta kebrutalan hasrat syahwat maling ini semakin meroket ke puncak. Jelas akan memperkosa istriku di depan aku suaminya. Dia bangun dari ranjang dan dengan cepat melepasi T. Shirt serta celana dekilnya. Dia menelanjangi dirinya. Aku terkesima. Maling itu memiliki postur tubuh yang sangat atletis dan menawan menurut ukuran tampilan tubuh lelaki. Dengan warna kulitnya yang coklat kehitaman berkilat karena keringatnya nampak dadanya, otot lengannya perutnya begitu kencang seperti pelaku binaraga. Tungkai kakinya, paha dan betisnya sungguh serasi banget.

Yang membuat aku terperangah adalah kemaluannya. kont*l maling itu begitu mempesona. Muncul dari rimbun jembutnya kont*l itu tegak ngaceng dengan bonggol kepalanya yang juga berkilatan karena kerasnya tekanan darah syahwatnya yang mendesakinya. Besar dan panjangnya di atas rata-rata kemaluan orang Asia dan nampak sangat serasi dalam warna hitaman pada awalnya kemudian sedikit belang kecoklatan pada leher dan ujungnya. Lubang kencingnya muncul dari belahan bonggol yang mekar menantang.

Kesan kekumuhan awal yang kutemui dari rambut dan jambang yang tak bercukur serta pakaiannya yang dekil langsung musnah begitu lelaki maling ini bertelanjang. Dia nampak sangat jantan macam jagoan.

Dalam ketakutan dan panik istriku Fatimah melihat saat maling itu bangun dan dengan cepat melepasi pakaiannya. Begitu lelaki maling itu benar-benar telanjang aku melihat perubahan pada wajah dan mata istriku. Wajah dan pandangannya nampak terpana. Yang belumnya layu dan kuyu kini beringas dengan mata yang membelalak. Mungkin karena ketakutannya yang semakin jadi atau karena adanya ’surprise’ yang tampil dari sosok lelaki telanjang yang kini ada bersamanya diranjangnya. Anehnya pandangannya itu tak dilepaskannya hingga ekor matanya mengikuti kemanapun lelaki maling itu bergerak.

Walaupun aku tak berani menyimpulkan secara pasti, menurut pendapatku wajah macam itu adalah wajah yang diterpa hasrat birahi. Adakah birahi Fatimah bangkit dan berhasrat pada lelaki maling yang dengan brutal telah mengikat dan menelanjangi tubuhnya di depan suaminya itu. Ataukah ’surprise’ yang disuguhkan lelaki itu telah membalik 180 derajat dari takut, marah dan benci menjadi dorongan syahwat yang dahsyat yang melanda seluruh sanubarinya? Ahh.. Aku dirasuki cemburu buta. Aku sering mendengar perempuan yang jatuh cinta dengan penculiknya.

Lelaki maling turun dari ranjang dan merangkak di depan arah kaki Fatimah yang terikat. Dia meraih kaki Fatimah yang terikat dan mulai dengan menjilatinya. Lidahnya menyapu ujung-ujung jari kaki istriku kemudian mengulumnya.

Aku menyaksikan kaki Fatimah yang seakan disengat listrik ribuan watt. Kaget meronta dan meregang- regang. Aku tidak pasti. Apakah itu gerak kaki untuk berontak atau menahan kegelian syahwati. Sementara lelaki maling itu terus menyerang dengan jilatan-jilatannya di telapaknya. Demikian dia melakukan pada kedua tungkai kaki istriku untuk mengawali lumatan dan jialatan selanjutnya menuju puncak nikmat syahwatnya.

Dengan caranya maling itu memang sengaja Menjatuhkan martabatku sebagai suami Fatimah.

“Mas, istrimu enak banget loh. Boleh aku ent*t ya? Boleh.. Ha ha. Aku ent*t istrimu yaa..”

Dan aku disini yang tergolek macam batang pisang tak berdaya hanya mampu menerawang dan menelan ludah.

Namun ada yang mulai merambati dan merasuk ke dalam sanubariku. Aku ingin tahu, macam apa wajah Fatimah saat kont*l maling itu nanti menembusi kemaluannya. Dan keinginan tahuku itu ternyata mulai merangsang syahwat birahiku. Dalam tergolek sambil mata tak lepas memandangi ulah lelaki maling telanjang yang melata bak kadal komodo di atas tubuh pasrah istriku yang jelita kont*lku jadi menegang. Aku ngaceng.

Kusaksikan betapa maling itu merangsek ke Selangkangan istriku. Dia menciumi dan menyedoti paha Fatimah serta meninggalkan merah cupang di setiap rambahannya. Namun yang membuat jantungku berdegup kencang adalah geliat-geliat tubuh istriku yang terikat serta desah dari mulutnya yang terbungkam. Aku sama sekali tidak melihatnya sebagai perlawanan seorang yang sedang disakiti dan dirampas kehormatannya. Istriku nampak begitu hanyut menikmati ulah maling itu.

Aku memastikan bahwa Fatimah telah tenggelam dalam hasrat seksualnya. Dia menggeliat-geliat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya teristimewa pinggul serta pantatnya. Fatimah dilanda kegatalan birahi yang sangat dahsyat dan kini nuraninya terus menjemput dan merindui kenyotan bibir si maling itu. Dalam pada itu aku berusaha tetap berpikir positip. Bahwa sangat berat menolak godaan syahwat sebagaimana yang sedang dialaminya. Secara pelan dan pasti kont*lku sendiri semakin keras dan tegak menyaksikan yangharus aku saksikan itu.

Dan klimaks dari pergulatan ‘perkosaan’ itu terjadi. Lelaki maling itu menenggelamkan bibirnya ke Bibir vagina Fatimah. Dia menyedot dan mengenyoti itil istriku dan meneruakkan lidahnya menembusi gerbang kemaluannya. Tak terelakkan..

Dalam kucuran keringat yang terperas dari tubuhnya Fatimah menjerit dalam gumam desahnya. Pantatnya semakin diangkatnya tinggi-tinggi. Dia nampak hendak meraih orgasmenya. Bukan main. Biasanya sangat sulit bagi Fatimah menemukan orgasme. Kali ini belum juga maling itu melakukan penetrasi dia telah dekat pada puncak kepuasan syahwatnya. Ah.. Lihat ituu.. Benar.. Fatimah meraih orgasmenya.. Nittaa..

Dia mengangkat tinggi pantatnya dan tetap Diangkatnya hingga beberapa saat sambil terkejat-kejat. Nampak walaupun tangannya terikat jari-jarinya mengepal seakan hendak meremas sesuatu. Dan kaki-kakinya yang meregang mengungkapkan betapa nikmat syahwat sedang melandanya. Itulah yang bisa ditampilkan olehnya dikarenakan tangan serta kakinya masih terikat ke ranjang.

Dan sang maling tanggap. Sebelum keburu Fatimah Kelelahan dia naik menindih tubuh istriku dan menuntun kont*lnya ke lubang vaginanya. Beberapa kali dia mengocok kecil sebelum akhirnya kemaluan yang lumayan gede dan panjangnya itu tembus dan amblas ditelan mem*k istriku.

Maling itu langsung mengayun-ayunkan kont*lnya ke lubang nikmat yang sepertinya disemangati oleh istriku dengan menggoyang dan mengangkat-angkat pantat dan pinggulnya agar kont*l itu bisa menyentuhi gerbang rahimnya.

Aku sendiri demikian terbakar birahi Menyaksikan peristiwa itu. Khususnya bagaimana wajah istriku dengan rambutnya yang berkeringat mawut jatugh ke dahi dan alisnya. kont*lku sangat tertahan oleh celana sempitku. Aku tak mampu melakukan apa-apa untuk Melepaskan dorongan syahwatku.

Genjotan maling itu semakin cepat dan sering. Aku pastikan bahwa maling itu sedang dirambati nikmat birahinya. kont*lnya yang semakin tegar kaku nampak licin berkilat karena cairan birahi yang melumurinya nampak seperti piston diesel keluar masuk menembusi mem*k istriku. Aku bayangkan betapa nikmat melanda istriku. Dengan kondisinya yang tetap terikat di ranjang, pantatnya nampak naik turun atau mengegos menimpali pompan kont*l lelaki maling itu.

Sebentar lagi spermanya akan muncrat mengisi rongga kemaluan istriku. Dan nampaknya istrikupun akan mendapatkan orgasmenya kembali. Orgasme beruntun. Bukan main. Selama menikah aku bisa hitung berapa kali dia berkejat-kejat menjemput orgasmenya. Namun bersama maling ini tidak sampai 1 jam dia hendak menjemput orgasmenya yang ke dua.

Saat-saat puncak orgasme serta ejakulasinya semakin dekat, lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Fatimah dan tangannya meraih kemudian melepas lakban di mulut istriku. Namun dia tak memberinya kesempatan untuk teriak. Mulutnya langsung menyumpal mulut istriku. Aku saksikan mereka saling berpagut. Dan itu bukan pagutan paksa. Istriku nampak menimpali lumatan bibir maling itu. Mereka tenggelam dalam nikmatnya pagutan. Dan ahh.. ahh.. aahh..

Maling itu melepas cepat pagutannya dan sedikit bangkit. Dia menyambar pisau dapur yang masih ada di dekatnya. Dengan masing-masing sekali sabetan kedua ikatan tangan Fatimah terbebas. Dan pisau itu langsung dilemparkannya ke lantai. Tangan maling itu cepat memeluki tubuh istriku serta bibirnya memagutinya. Dan tanpa ayal dan ragu begitu terbebas tangan istriku langsung memeluki tubuh lelaki maling ini. Kini aku menyaksikan persetubuhan yang nyaris sempurna. Lelaki maling bersama Fatimah istriku langsung tenggelam mendekati puncak syahwatnya.
Hingga…

“Aarrcchh.. Cantikk.. Aku keluaarr..
Hhoohh.. Ampun
enaknyaa..”

Istriku juga mendesis hebat, tak ada omongan namun jelas, dia kembali meraih orgasmenya. Dengan tangannya yang bebas dia bisa melampiaskan gelegak birahinya. Tangannya mencakar punggung maling itu dan menancapkan kukunya. Nampak bilur sejajar memanjang di kanan kiri punggungnya merembes kemerahan. Punggung maling itu sempat terluka dan berdarah.

Masih beberapa saat mereka dalam satu pelukan sebelum pada akhirnya lelaki maling itu bangkit dan menarik kont*lnya dari kemaluan istriku. Aku langsung menyaksikan spermanya yang kental melimpah tumpah dan meleleh dari lubang vagina Fatimah. Sesaat mata maling itu melihati tubuh istriku yang nampak lunglai. Dia lantas bergerak efektif.

Maling itu turun dari ranjang, memakai celana dan T.Shirt-nya. Dia mencopot selembar sarung bantal. Dia mengeluarkan dari kantongnya HP-ku dan HP istriku, jam tangan, perhiasan dan segepok uang simpananku, mungkin hanya sekitar 500-an ribu rupiah. Dia masukkan hasil curiannya ke sarung bantal itu. Tak sampai 2 menit sejak turun ranjang dia langsung keluar dan kabur meninggalkan aku yang masih terikat tak berdaya di lantai dan Fatimah yang telanjang sesudah diperkosanya. Dia telah mencuri barang-barangku dan menikmati tubuh dan kemaluan istriku.

Fatimah nampak bengong sambil melihati aku,

“Maaf, maass.. Aku harus memuaskan nafsu syahwatnya agar dia tidak menyakiti Mas..” Fatimah sudah siap dengan alibinya. Aku hanya diam. Nikmat seksual memang bisa mengubah banyak hal.

Hingga kini, sesudah 8 tahun menikah hingga mempunyai 2 anak aib itu tak pernah diketahui orang. Kami sepakat menyimpannya dalam-dalam.

Sesekali kulihat istriku bengong. Aku memakluminya. Setidaknya memang postur tubuhku serta kaliber kemaluanku tak mungkin mengimbangi milik lelaki maling itu.

Nafsunya pembantuku

Di tempat aku tinggal ada pembantu baru, lelaki, orangnya sepantaran aku, tinggi besar, lumayan ganteng, malah terlalu ganteng untuk jadi pembantu, harusnya jadi cover boy. Namanya Budi. Aku tertarik padanya karena dia type cowok idaman buatku. Aku kerap kali membayangkan gimana kalo aku di***** olehnya, memiawku dienjot tongkolnya yang dari luar celananya kelihatan menggembung, pertanda tongkolnya besar.

Satu hari, aku tidak kerja sehingga dirumah seharian. Aku cuma pake daster yang mini tanpa bra, sehingga toketku bergerak2 kalo aku jalan. Kalo papasan dengan dia, kulihat matanya lekat menatap toketku yang bergerak2 itu, aku sih gak perduli. Siang itu gak ada siapa2 di tempat tinggalku. Aku duduk di meja makan membaca koran setelah menyantap makan siangku. Dia sedang ngepel di ruang makan. Aku sengaja mengangkangkan pahaku, sehingga dasterku yang mini itu makin tersingkap ke atas dan pastinya cd ku akan bisa dilihat dengan jelas oleh dia yang sedang ngepel itu. Aku tau bahwa dia pasti sedang melotot melihat paha dan cdku walaupun aku tidak melihatnya karena terhalang meja makan, karena dia tidak selesai2 ngepel lantai di sekitar meja makan itu. Aku kaget juga karena ternyata dia berani banget. Aku merasa ada rabaan di pahaku. Paha makin kukangkangkan karena aku tau pasti dia sedang ngelus2 pahaku. Aku jadi menggeliat2 karena rabaannya pada paha bagian dalam, “Aah”, erangku, karena napsuku mulai naik. “Kenapa Nes, napsu ya”, katanya. Dia memang memanggil semua yang sepantaran dia di tumah itu dengan namanya. “Tanganmu nakal sih”, kataku terengah. “Abis kamu nantang duluan sih. Udah tau aku lagi ngepel pake ngangkangin paha segala”, jawabnya dengan tetap ngelus2 pahaku, elusannya makin lama makin naik ke atas. Kini tangannya mulai meraba dan meremes memiawku dari luar cdku, Aku semakin terangsang karena ulahnya, “Aah Bud, ines jadi napsu nih”, erangku. “Iya Nes, cd kamu udah basah begini. Kamu ternyata napsunya besar ya, mau ng***** gak dengan aku”, katanya terus terang. Aku terdiam mendengar ajakannya yang to the point itu. Aku yakin tongkolnya pasti udah ngaceng berat. Terasa jarinya menyusup kedalam cdku lewat samping. Memang aku pake cd yang minim sekali sehingga dia mudah mengakses memiawku dari samping cdku. Terasa sekali jarinya mengorek2 memiawku mencari itilku, setelah ketemu langsung saja dikilik2nya. “Bud…”, erangku. memiawku menjadi makin basah. Aku duduknya menjadi setengah melorot sehingga dasterku makin terangkat keatas, membebaskan selangkanganku. Dia makin nakal ulahnya, pahaku makin dikangkangkannya dan terasa hembusan napasnya yang hangat di pahaku. Dia mulai menjilati pahaku, dari bawah bergerak perlahan keatas sambil digigit2nya pelan. Aku menggigil menahan geli saat lidahnya menyelisuri pahaku. “Bud, kamu pinter banget ngerangsang Ines, udah biasa ngerangsang cewek ya”, kataklu terengah. CD ku yang minim itu dengan mudah disingkirkan disingkirkan kesamping dan tak lama kemudian terasa lidahnya menghunjam ke memiawku yang sudah sangat basah. Aku hanya pasrah saja atas perlakuannya, aku hanya bisa mengerang karena rangsangan pada memiawku itu. Lidahnya menyusup ke dalam memiawku dan mulai bergerak keatas. Aku makin mengejang ketika dia mulai menjilati itilku. “Aah Bud, Ines sudah pengen di*****”, aku mengerang saking napsunya. Dia menghentikan aksinya, berdiri dan menarikku berdiri juga. Karena rumah sedang sepi, dia langsung memelukku dan mencium bibirku dengan napsunya. Lidahnya menerobos bibirku dan mencari lidahku, segera aku bereaksi yang sama sehingga lidah kami saling membelit didalam mulutku. Pelukannya makin erat, Terasa ada sesuatu yang mengganjal diperutku, tongkolnya rupanya sudah ngaceng berat seperti dugaanku. Tangannya mulai bergerak kebawah, meremas pantatku dari luar dasterku, sedang tangan satunya masih ketat mendekapku. Aku menggelinjang karena remasan dipantatku dan tekanan tongkolnya yang ngaceng itu makin terasa diperutku. “Aah”, lenguhku sementara bibirku masih terus dikulumnya dengan penuh napsu juga. Lidahnya kemudian dikeluarkan dari mulutku, bibirku dijilati kemudian turun ke daguku. Tangannya bergeser dari pantatku ke arah memiawku, “Aah”, kembali aku mengerang ketika jarinya mulai mengilik memiawku dari luar cdku. Lidahnya mengarah ke leherku, dijilatinya sehingga aku menggeliat2 kegelian. Sementara itu jarinya sudah menyusup kembali ke dalam cdku lewat samping dan mulai mengelus2 memiawku yang sudah sangat basah itu dan kemudian menjadikan itilku sasaran berikutnya.Digerakkannya jarinya memutar menggesek itilku. Aku menjadi lemes dan bersender dipelukannya. “Nes kekamarmu aja yuk”, katanya sambil menyeret tubuhku yang lemes itu kekamarku.

Di kamar aku didorongnya dengan keras sehingga terbaring diranjang, sementara dia mengunci pintunya. Korden jendela ditutupnya sehingga ruangan menjadi agak gelap. Dia segera menghampiriku, cdku ditariknya sehingga lepas dan dia mulai menggarap memiawku lagi. “Nes, jembut kamu lebat sekali, gak heran napsu kamu gede banget. Dikilik sebentar aja udah basah begini”, katanya sambil mengangkangkan pahaku lagi. Jembutku disingkirkannya dan langsung saja mulutnya menyosor memiawku lagi. Bibir memiawku diemutnya, lidahnya menyyusup masuk melalui bibir memiawku. Tanpa sadar aku meremes2 rambutnya. Lidahnya mulai menjilati itilku, perutku mengejang karena menahan kenikmatan rangsangannya. “Aah terus Bud, enak”, teriakku. Kepalanya kutekan sehingga menempel erat di memiawku. Lidahnya makin seru saja mengilik memiaw dan itilku. Cairan memiawku diisepnya, itu membuatku makin melayang2. Ketika aku udah hampir nyampe, dia menghentikan aksinya, “Kenapa brenti”, protesku. “ines sudah ampir nyampe”. Dia membuka baju dan celannya, sekaligus dengan cdnya, benar dugaanku. Ternyata tongkolnya besar dan panjang, berdiri tegak karena sudah ngaceng berat. Aku ditariknya bangun kemudian disuruh menelungkup dipinggir ranjang, saat itu aku masih memakai daster miniku. Dia memposisikan dirinya dibelakangku, punggungku didorong sedikit sehingga aku menjadi lebih nungging. Pahaku digesernya agar lebih membuka. Aku menggelinjang ketika merasa ada menggesek2 memiawku. memiawku yang sudah sangat licin itu membantu masuknya tongkol besarnya dengan lebih mudah. Kepala tongkolnya sudah terjepit di memiawku. Terasa sekali tongkolnya sesek mengganjal di selangkanganku. “Aah, gede banget tongkolmu”, erangku. Dia diam saja, malah terus mendorong tongkolnya masuk pelan2. Aku menggeletar ketika tongkolnya masuk makin dalam. Nikmat banget rasanya kemasukan tongkolnya yang besar itu. Pelan2 dia menarik tongkolnya keluar dan didorongnya lagi dengan pelan juga, gerakan keluar masuk tongkolnya makin cepat sehingga akhirnya dengan satu hentakan tongkolnya nancep semua di memiawku. “Aah, enak banget Bud tongkolmu”, jeritku. “memiawmu juga peret banget deh Nes. baru sekali aku ngerasain memiaw seperet memiawmu”, katanya sambil mengenjotkan tongkolnya keluar masuk memiawku. “Huh”, dengusku ketika terasa tongkolnya nancep semua di memiawku, Terasa biji pelernya menempel ketat di pantatku. memiawku terasa berdenyut meremes2 tongkolnya yang nancep dalem sekali karena panjangnya. Tangannya yang tadinya memegang pinggulku mulai menyusup kedalam dasterku dan meremes toketku dengan gemesnya. Aku menjadi menggelinjang karenanya, sementara itu enjotan keluar masuk tongkolnya makin dipercepat. Tubuhku makin bergetar merasakan gesekan tongkolnya di memiawku. “Enak Bud, enjotin yang keras, aah, nikmatnya. Ines mau deh kamu ***** tiap hari”, erangku gak karuan. Keluar masuknya tongkolnya di memiawku makin lancar karena cairan memiawku makin banyak, seakan menjadi pelumas tongkolnya. Dia menelungkup dibadanku dan mencium kudukku. Aku menjadi menggelinjang kegelian. Pinter banget dia merangsang dan memberi aku nikmat yang luar biasa. Toketku dilepaskannya dan tangannya menarik wajahku agar menengok ke belakang, kemudian bibirku segera diciumnya dengan napsunya. Lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Tangannya kembali menyusup kedalam dasterku dan meneruskan tugasnya meremes2 toketku. Sementara itu, tongkolnya tetep dienjotkan keluar masuk dengan cepat dan keras. Jembutnya yang kasar dan lebat itu berkali2 menggesek pantatku ketika tongkolnya nancep semuanya di memiawku. Aku menjadi mengerang keenakan berkali2, ini menambah semangatnya untuk makin mgencar mengenjot memiawku. Pantatku mulai bergerak mengikuti irama enjotan tongkolnya. Pantatku makin cepat bergerak maju mundur menyambut enjotan tongkolnya sehingga rasanya tongkolnya nancep lebih dalem lagi di memiawku. “Terus Bud, enjot yang keras, aah nikmat banget deh di***** kamu”, erangku. Dia makin seru saja mengenjot memiawku dengan tongkolnya. Aku tersentak. Perutku terasa kejang menahan kenikmatan yang luar biasa. Bibirku kembali dilumatnya, aku membalas melumat bibirnya juga, sementara gesekan tongkolnya pada memiawku tetep saja terjadi. Akhirnya aku tidak dapat menahan rangsangan lebih lama, memiawku mengejang dan “Bud, Ines nyampe aah”, teriakku. memiawku berdenyut hebat mencengkeram tongkolnya sehingga akhirnya, tongkolnya mengedut mengecretkan pejunya sampe 5 semburan. Terasa banget pejunya yang anget menyembur menyirami memiawku. tongkolnya terus dienjotkan keluar masuk seiring ngecretnya pejunya. Akhirnya aku ambruk keranjang dan dia menindihku. Napasku memburu, demikian juga napasnya. tongkolnya terlepas dari jepitan memiawku sehingga terasa pejunya ikut keluar mengalir di pahaku. Dia segera telentang diranjangku supaya tidak menindih aku. “Nes, nikmat banget deh memiaw kamu, peret dan empotannya kerasa banget”, katanya. “Kamu sudah sering ng***** ya Bud, ahli banget bikin Ines nikmat. Kamu ng***** ama siapa aja”, tanyaku. “Kalo enggak anak majikan ya istri majikan”, jawabnya sambil cengar cengir. “Wah nikmat banget kamu, ada yang muasin kamu sembari kerja”, jawabku sambil menelentangkan badanku disebelahnya.

Dia bangun dan masuk kamar mandi, memang kamarku ada kamar mandi didalemnya. Terdengar grujuan air, dia rupanya sedang membersihkan dirinya, sementara aku masih saja telentang di ranjang menikmati sisa2 kenikmatan yang baru saja aku rasakan. Dia keluar dari kamar mandi, dasterku yang sudah basah karena keringat dilepasnya sehingga aku terkapar telanjang bulat. “kamu napsuin deh Nes, toket kamu gede dan kenceng, mana pentilnya gede lagi. sering diemut ya Nes, kamu ngentotnya sama siapa sih”, tanyanya. Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya. “Aku paling suka liat jembut kamu, lebat banget sih. Aku paling napsu ngeliat cewek kayak kamu ini, toketnya gede kenceng dan jembutnya lebat, nikmat banget di*****nya,” katanya lagi. Dia berbaring disebelahku dan memelukku, “Nes aku pengen lagi deh”, katanya. Aku kaget juga dengernya, baru aja ngecret udah napsu lagi, tapi aku suka cowok kaya begini, udah tongkolnya gede dan panjang, kuat lagi ng*****nya. Dia mulai menciumi leherku dan lidahnya menjilati leherku. Aku menggelinjang dan mulai terangsang juga. Bibirku segera diciumnya, lidahnya kembali menyusup kedalam mulutku dan membelit lidahku. Sementara itu tangannya mulai meremes2 toketku dengan gemes. Dia melepaskan bibirku tetapi lidahnya terus saja menjilati bibirku, daguku, leherku dan akhirnya toketku. Pentilku yang sudah mengeras dijilatinya kemudian diemutnya dengan rakus. Aku menggeliat2 karena napsuku makin memuncak juga. “Aash, kamu napsu banget sih Bud, tapi Ines suka banget”, erangku. Toketku yang sebelah lagi diremes2nya dengan gemes. Jari2nya menggeser kebawah, keperutlu, Puserku dikorek2nya sehingga aku makin menggelinjang kegelian. Akhirnya jembutku dielus2nya, tidak lama karena kemudian jarinya menyusup melalui jembutku mengilik2 memiawku. Pahaku otomatis kukangkangkan untuk mempermudah dia mengilik memiawku. “Aah”, aku melenguh saking nikmatnya. Dia membalik posisinya sehingga kepalanya ada di memiawku, otomatis tongkolnya yang sudah ngaceng ada didekat mukaku. Sementara dia mengilik memiaw dan itilku dengan lidahnya, tongkolnya kuremes dan kukocok2, keras banget tongkolnya. Kepalanya mulai kujilati dan kuemut pelan, lidahnya makin terasa menekan2 itilku sehingga pantatku terangkat dengan sendirinya. Enggak lama aku mengemut tongkolnya sebab dia segera membalikkan badannya dan menelungkup diatasku, tongkolnya ditancapkannya di memiawku dan mulai ditekennya masuk kedalam. Setelah nancep semua, mulai dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dengan cepat da keras. Bibirku kembali dilumatnya dengan penuh napsu, sementara itu terasa banget tongkolnya mengisi seluruh ruang memiawku sampe terasa sesek. Nikmat banget ng***** sama dia. Aku menggeliat2kan pantatku mengiringi enjotan tongkolnya itu. Cukup lama dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk, tiba2 dia berhenti dan mencabut tongkolnya dari memiawku. Dia turun dari ranjang dan duduk di kursi, aku dimintanya untuk duduk dipangkuannya mengangkang diantara kedua kakinya. Dia memelukku dengan erat. Aku sedikit berdiri supaya dia bisa mengarahkan tongkolnya yang masih ngaceng itu masuk ke memiawku. Aku menurunkan badanku sehingga sedikit2 tongkolnya mulai ambles lagi di memiawku. Aku menggeliat merasakan nikmatnya tongkolnya mendesak masuk memiawku sampe nancep semuanya. Jembutnya menggesek jembutku dan biji pelernya terasa menyenggol2 pantatku. Aku muali menaik turunkan badanku mengocok tongkolnya dengan memiawku. Dia mengemut pentilku sementara aku aktif bergerak naik turun. Nikmat banget, kayanya lebih nikmat dari tadi. “Aah Bud, enak banget deh, lebih nikmat dari yang tadi”, erangku sambil terus menurun naikkan badanku mengocok tongkolnya yang terjepit erat di memiawku. memiawku mulai berdenyut lagi meremes2 tongkolnya, gerakanku makin liar, aku berusaha menancepkan tongkolnya sedalam2nya di memiawku sambil mengerang2. Tangannya memegang pinggulku dan membantu agar aku terus mengocok tongkolnya dengan memiawku.

Aku memeluk lehernya supaya isa tetep mengenjot tongkolnya, denyutan memiawku makin terasa kuat, dia juga melenguh saking nikmatnya’ “Nes, empotan memiawmu kerasa banget deh, mau deh aku ng***** ama kamu tiap hari”. Akhirnya aku gak bisa menahan rangsangan lebih lama dan “Bud, Ines nyampe, aah”, teraikkua dan kemudian aku terduduk lemas dipangkuannya. Hebatnya dia belum ngecret juga, kayanya ronde kedua membuat dia bisa ng***** lebih lama. “Cape Nes”, tanyanya tersenyum sambil terus memelukku. “He eh”, jawabku singkat. Pelan dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga aku berdiri, tongkolnya lepas dari jepitan memiawku. tongkolnya masih keras dan berlumuran cairan memiawku. Kembali aku dimintanya nungging dipinggir ranjang, doyan banget dia dengan doggie style. aku sih oke aja dengan gaya apa saja karena semua gaya juga nikmat buat aku. Dia menjilati kudukku sehingga aku menggelinjang kegelian, perlahan jilatannya turun ke punggung. Terus turun ke pinggang dan akhirnya sampe dipinggulku. Otot perutku terasa tertarik karena rangsangan jilatan itu. Mulutnya terus menjilati, yang menjadi sasaran sekarang adalah pantatku, diciuminya dan digigitnya pelan. Apalagi saat lidahnya mulai menyapu daerah sekitar lubang pantatku. Geli rasanya. Jilatannya turun terus kearah memiawku, kakiku dikangkangkannya supaya dia bisa menjilati memiawku dari belakang, Aku lebih menelungkup sehingga pantatku makin menungging dan memiawku terlihat jelas dari belakang. Dia menjilati memiawku, sehingga kembali aku berteriak2 minta segera di*****, “Bud, nakal deh kamu, ayo dong Ines cepetan di*****nya”. Dia berdiri dan memposisikan tongkolnya dibibir memiawku dan dienjotkannya kedalam dengan keras sehingga nancep semua dengan sekali enjotan. Dia mulai mengenjot memiawku dengan tongkolnya, makin lama makin cepat. Aku kembali menggeliat2kan pantatku mengimbangi enjotan tongkolnya dimemiawku. Jika dia mengejotkan tongkolnya masuk aku mendorong pantatku kebelakang sehingga menyambut tongkolnya supaya nancep sedalam2nya di memiawku. Toketku berguncang2 ketika dia mengenjot memiawku. Dia merems2 toketku dan memlintir2 pentilnya sambil terus mengenjotkan tongkolnya keluar masuk. “Terus Bud, nikmat banget deh”, erangku lagi. Enjotan berjalan terus, sementara itu aku mengganti gerakan pantatku dengan memutar sehingga efeknya seperti meremes tongkolnya. Dengan gerakan memutar, itilku tergesek tongkolnya setiap kali dia mengenjotkan tongkolnya masuk. Denyutan memiawku makin terasa keras, diapun melenguh, “Nes, nikmat banget empotan memiaw kamu”. Akhirnya kembali aku kalah, aku nyampe lagi dengan lenguhan panjang, “Aah nikmatnya, Ines nyampeee”.Otot perutku mengejang dan aku ambruk ke ranjang karena lemesnya.

Aku ditelentangkan di ranjang dan segera dia menaiki tubuhku yang sudah terkapar karena lemesnya. Pahaku dikangkangkannya dan segera dia menancapkan kembali tongkolnya di memiawku. tongkolnya dengan mudah meluncur kedalam sehingga nancep semuanya karena memiawku masih licin karena cairan yang berhamburan ketika aku nyampe. Dia mulai mengenjotkan lagi tongkolnya keluar masuk. Hebat sekali staminanya, kayanya gak ada matinya ni orang. Aku hanya bisa terkapar menikmati sisa kenikmatan dan rangsangan baru dari enjotan tongkolnya. Dia terus mengejotkan tongkolnya dengan cepat dan keras. Dia kembali menciumi bibirku, lherku dan dengan agak membungkukkan badan dia mengemut pentilku. Sementara itu enjotan tongkolnya tetao berlangsung dengan cepat dan keras. Aku agak sulit bergerak karena dia agak menindih badanku, keringatku sudah bercampur aduk dengan keringatnya. Enggak tau sudah berapa lama dia meng*****i ku sejak pertama tadi. Dia menyusupkan kedua tangannya kepunggungku dan menciumku lagi. tongkolnya terus saja dienjotkan keluar masuk. Pertutku mengejang lagi, aku heran juga kok aku cepet banget mau nyampe lagio di***** dia. Aku mulai menggeliatkan pantatku, kuputar2 mengimbangi enjotan tongkolnya. memiawku makin mengedut mencengkeram tongkolnya, pantatku terkadang terangkat menyambut enjotannya yang keras, sampe akhirnya, “terus Bud, yang cepet, Ines udah mau nyampe lagi”, teriakku. Dia dengan gencarnya mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dan, “Aah Ines nyampe lagi”, aku berteriak keenakan. Berbarengan dengan itu terasa sekali semburan pejunya yang kuat di memiawku. Diapun ngecret dan ambruk diatas badanku. Kami sama2 terkulai lemes, lebih2 aku karena aku udah nyampe 3 kali sebelum dia akhirnya ngecret dimemiawku. “Bud, kamu kuat banget deh ng*****nya, mana lama lagi. Nikmat banget ng***** ama kamu. Kapan kamu ng*****in Ines lagi”, kataku. Dia tersenyum mendengar sanjunganku. “Kalo ada kesempatan ya aku sih mau aja ng*****in kamu. memiaw kamu yang paling nikmat dari semua cewek yang pernah aku *****”, jawabnya memuji. Dia kemudian meninggalkanku terkapar telanjang karena nikmat.

Malemnya, aku sudah tertidur, terdengar garukan di pintu kamarku. Aku terbangun, “Siapa” kataku lirih. “Aku Nes”, terdengar suara Budi, rupany dia belum puas ng*****in aku tadi siang, minta nambah lagi malem ini. Gak ada matinya rupanya dia. Aku bangun dan membukakan pintu. Segera dia masuk dan memeluk tubuhku yang hanya terbalus cd minim. “Nes, aku pengen ngerasain empotan memiaw kamu lagi ya, boleh kan”, katanya. Aku kalo tidur hanya pake cd saja karena gerah hawanya dikamar. Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku mulai jongkok di atasnya dan menciumi nya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum, ”Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah. Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Kaosnya kusingkapkan dari bawah lalu kuciumi dadanya. “Hmmmhhh… aduh

Nes enak ..” rintihnya. Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya risleting celana pendeknya kubuka, kusingkapkan cdnya, tongkolnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok2, “Ahhhhh… Hhhh…. Hmmhmh… Ohhh Nes…” dia cuman bisa mendesah doang.
tongkolnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya, “Ehmm… Ehmm…” Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut tongkolnya, kemudian aku bilang, “Bud… sekarang giliran kamu yach?” Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sembari memelorotkan celana pendek dan celana dalamnya, sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran. Dia mulai nyiumin bibirku, aku mencoba ngelepasin kaosnya, lalu dia langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Dia pun mulai menciumi leherku sementara tangannya meraba-raba toketku dan diremasnya. “Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan. Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua. Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku dan ingin memelorotkan CDku. Aku mengangkat pantatku, lalu dia memelorotkan CDku. Dia langsung menciumi memiawku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati memiaw dan itilku. “Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan. Sesekali kudengar “slurrp… slurrp…” dia menyedot memiawku yang sudah mulai basah itu. ”Ahhhh… Bud… Enak …” desahan ku semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar. Napsuku sudah sampe ubun2, dia kutarik untuk segera menancapkan tongkol besarnya di memiawku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake tongkol. Pelan-pelan dia memasukkan tongkolnya ke dalam memiawku. dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh tongkolnya dalam memiawku. “Uh… uhhh…. Ahhhhhhh…nikmat banget Bud” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan tongkolnya dalam memiawku. Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya tongkolnya di memiawku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe, “Ah…Bud… Aku sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan tongkolnya dimemiawku, “Bareng nyampenya ya Nes, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah. Enjotan tongkolnya makin cepat saja, sampe akhirnya, “Bud, Ines nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa memiawknu berdenyut2 meremas tongkolnya sehingga diapun menyodokkan tongkolnya dengan keras, “Nes, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres dimemiawku. Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku. Setelah istirahat sejenak, dia mencabut tongkolnya , memakai pakaiannya dan keluar meninggalkan aku terkapar telanjang di ranjang.

Sejak itu setiap ada kesempatan, aku selalu minta di***** sama dia.

Rima: Pendakian Tiada Henti

Lembayung mulai melingkupi ufuk langit. Ratusan perdu kini tinggal bayang-bayang hitam, seperti serdadu bergerombol dalam diam. Angin tak terlalu kencang, tetapi tentu saja dingin. Puncak gunung ini cukup tinggi untuk ukuran para pendaki pemula. Dalam remang yang menemaram, Rima duduk di tanah memeluk lututnya, memandang ke depan sana: kabut tipis di mana-mana. Jaket besar-tebal membungkus tubuhnya, memberi hangat yang lumayan.

Tubuhnya letih, tetapi hatinya lapang. Setelah mendaki empat jam penuh, Rima merasa nikmat-hikmat duduk memandang Sang Teja yang bersiap menggelap. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi hamparan hitam maha luas. Lalu akan ada satu dua bintang, sebelum akhirnya jutaan-milyaran kerlap-kerlip akan memenuhi semesta maha tinggi itu. Pada saat seperti itulah Rima dan selusin pendaki lainnya akan merasa sekecil butir debu. Merasa seperti kutu tak berdaya di bawah naungan alam yang amat perkasa. Merasa akan dengan mudah terhembus lenyap dari muka bumi jika alam berniat begitu.

Seorang pendaki lamat-lamat menyanyikan puja-puji kepada alam, diiringi harmonika temannya. Rima ikut berbisik mengucap syairnya. Hatinya terasa dipenuhi rasa lega karena ternyata bumi begini luas. Ternyata kepada kita disediakan begitu banyak kelapangan-keleluasaan. Tidak ada tembok di sini. Tidak ada atap. Semuanya terbuka-terhampar.

Betapa bedanya di bawah sana, di tempat yang hiruk-pikuk dan sempit oleh rumah, gedung, jembatan, pagar-tembok, tangsi militer, toko, rumahsakit... entah apa lagi! Betapa terhimpitnya di bawah sana, dan betapa banyaknya masalah. Setiap hari di bawah sana ada masalah menyerbu bagai banjir bandang. Kadang-kadang itulah yang menyebabkan kita tenggelam, atau hanyut, atau terlindas-tandas. Kita tidak bisa lari, karena kesana-kesini terbentur tembok. Ada banyak tembok kasat mata. Tak kurang banyak pula tembok maya-nestapa. Semuanya siap mencegah sembari ikut merajah-rajam.

Rima menarik nafas dalam-dalam, memenuhi dadanya dengan udara segar yang bisa mengusir keluh di hatinya. Seandainya hidup ini selalu luas-lapang seperti di puncak gunung, tentu tak akan ada gundah. Tentu semuanya akan nyaman belaka. Tetapi,.... Rima menghempaskan nafasnya kuat-kuat, tetapi hidup ini bisa menjadi bajingan. Life is a bitch!. Hidup ini sungguh tak mau kompromi. Bahkan kepada seorang gadis kecil yang kehilangan Ibunya sewaktu masih berusia 5 tahun...

******

Rima menggigit bibirnya sendiri setiap kali ingat Ibu. Ia tak pernah ingat wajah Ibu yang sesungguhnya, karena itulah ia hanya bergantung kepada sebuah foto yang kini hampir lusuh di dompetnya. Dari foto itu Rima bisa selalu mengenang matanya yang teduh tetapi agak sipit. Terlahir dari keluarga campuran, ibunya termasuk cantik sekali. Rambutnya yang ikal datang dari Kakek yang berasal dari Indonesia Timur. Bibirnya yang tipis dan matanya yang sedikit sipit datang dari Nenek yang masih punya kerabat di Hong Kong. Foto hitam-putih itu dibuat di sebuah studio, memperlihatkan Ibu ketika berusia 20-an, sebelum menikah dengan Ayah. Cantik sekali, Ibu mengerling tajam, dengan tubuh putih-mulus dibalut kebaya modern.

Di setiap puncak gunung di mana pun Rima mendaki, selalu ia sempatkan berbisik ke langit, "Ibu, Rima rindu padamu. Peluklah Rima dari atas sana.".. Dan seperti nyata, Ibu pun datang memeluknya dalam bentuk kabut tipis yang merayap pelan-pelan di sekujur tubuh. Atau dalam bentuk kelam-malam yang membungkus semua isi alam. Atau dalam bentuk wangi edelweis yang merebak di pagi hari.

Ketika Rima masih kecil, ia tak pernah tahu apa arti Ibu yang tiada. Baru setelah berusia belasan, setelah Ayah semakin sering pulang malam atau tidak pulang selama 3 hari berturut-turut, Rima tahu mengapa Ibu sebaiknya hadir di setiap rumahtangga. Juga ketika salah seorang kakak pria-nya (Rima adalah satu-satunya wanita) meninggal akibat over-dosis, Rima pun sadar bahwa Ayah adalah pria yang tak berdaya. Kakaknya yang tertua menghilang dari rumah ketika Rima berusia 12 dan baru muncul lagi ketika Rima lulus SMA. Ia ingat, kakaknya datang dengan sebuah motor Harley Davidson, dengan tubuh penuh tatoo. Lalu ia mendengar kakaknya bertengkar riuh dengan Ayah di ruang tamu. Lalu Ayah terjengkang ditinju kakaknya, dan Rima berdiri saja di bingkai pintu seperti menonton film Kung Fu.

Mengapa ia tidak menjerit melihat hidung Ayahnya berdarah? Mengapa ia sering ikut merasa ingin meninju hidung itu? Mengapa ia tidak bisa melupakan perempuan yang dibawa Ayah dan disetubuhinya di kamar Ibu? Mengapa ia tetap geram kalau ingat gelas yang dilemparkan kepadanya ketika Ayah mabuk di ruang tamu? Mengapa ia sering tak mau menuruti perintah Ayah? Mengapa ia sering berharap agar Ayah masuk penjara atau tewas di jalan raya? Mengapa....?

Rima menunduk, menyembunyikan mukanya di antara kedua lututnya. Malam di puncak gunung sudah semakin gelap. Salah seorang pendaki berteriak mengatakan bahwa api unggun sudah menyala. Seorang lainnya menegur Rima dan menawarkan rokok. Ada juga suara-suara lain di sekelilingnya. Ada tawa. Ada nyanyi. Ada teriakan-lepas. Ada cekakak-cekikik. Rima diam saja membiarkan dirinya terbungkus oleh aneka suara itu.

******

"Aku tidak percaya ungkapan 'alam yang kejam'...," ucapan Kino terngiang di telinga Rima, "Alam selalu bersahabat. Lihatlah!" kata pemuda itu sambil membentangkan tangannya.

Dan Rima ingat, itulah pertama kali ia berdiri di puncak sebuah gunung yang tidak terlalu tinggi. Itulah saat ia resmi menjadi anggota Pencinta Alam bersama-sama Kino. Itulah pula saat ia melirik ke pemuda jangkung di sebelahnya dan berbisik dalam hati,.. siapa pacarnya?

Bagi Rima, pemuda atau lelaki atau cowok bukan mahluk asing. Ayahnya adalah salah satu contoh mahluk itu. Seluruh kakaknya adalah mahluk itu pula. Pacar-pacarnya, dari sejak SMP sampai detik ini, adalah mahluk itu pula. Maka bagi Rima tidak ada yang asing dari pemuda di sebelahnya ini. Kecuali satu... pemuda ini mengajaknya naik gunung, sementara yang lain biasanya ingin menaiki "gunung"-nya yang tak terlalu besar itu!

"Banyak yang mati waktu naik gunung," kata Rima waktu itu, mencoba mengundang perdebatan.

"Lebih banyak yang mati di jalan raya," jawab Kino kalem.

"Kalau orang yang naik gunung sama banyaknya dengan yang di jalan raya, mungkin yang mati di gunung akan lebih banyak," sergah Rima tak mau kalah.

"Kalau orang yang naik gunung segitu banyak, gunungnya meledak dan semuanya mati!" kata Kino, dan Rima tertawa tergelak-gelak mendengar jawaban telak itu.

Kino selalu bisa membuatnya tertawa. Pemuda itu mempesonanya sejak awal, karena Rima lahir dan besar di tengah kakak-kakaknya yang brengsek. Salah satu kakaknya -yang nomor dua- sering menampar. Kakak yang lain pernah memperlihatkan buku porno kepadanya, dan meraba dada dan pantatnya ketika ia masih SMP. Kakak itulah yang kemudian tewas OD. Kakak tertuanya -yang meninju Ayah itu- adalah pemimpin salah satu kelompok gangster ibukota. Kakak tertua ini yang sering memberinya uang dan mengajarinya minum bir, selain membekalinya dengan pil anti hamil dan sekotak kondom. Bagi Rima, Kino adalah kebalikannya dari semua itu!

Rima "menemukan" Kino dalam suasana perploncoan yang seru. Pemuda itu sedang duduk di bawah gerbang kampus, membaca Proklamasi keras-keras dan berulang-ulang. Sementara ia sendiri harus berdiri di seberang jalan sambil memberi hormat ke setiap angkot yang lewat. Ketika hukuman bagi keduanya usai, mereka berjalan beriringan tak sengaja, dan saling tukar senyum untuk sekedar merasa senasib.

Lalu mereka sering bersama-sama, dan akhirnya Kino berhasil membujuknya ikut mendaki. Rima ingat sekali, sebelum mendaki ia sedang gundah karena Ayahnya memberi kabar bahwa ia akan menikah. Gila, sudah setua itu mau menikah. Mengapa tidak segera setelah Ibu meninggal saja ia menikah? Mengapa harus menunggu, dan menyiksa diri sekaligus anak-anaknya, sebelum memutuskan menikah? Rima marah sekali waktu itu. Begitu marahnya sampai ia merasa putus asa dan berpikir tentang bagaimana caranya menemui Ibu secepatnya!

"Ayolah, di gunung kita bisa berpikir lebih jernih!" desak Kino ketika mendengar alasan Rima bahwa ia sedang suntuk.

"Nggak, ah! Capek jalan jauh..," Rima menolak.

"Nanti aku gendong!" sergah Kino sambil membungkuk memperagakan kesiapan untuk menggendong. Rima tertawa sambil mencubit lengan pemuda itu.

"Tinggi, nggak, gunungnya?" tanya Rima mulai ragu atas penolakannya sendiri.

"Ah, tidak. Kelihatan dari sini, kok!" kata Kino bersemangat.

"Dasar bego,... bulan juga kelihatan dari sini!" sergah Rima sambil mencubit lagi. Ia senang sekali mencubiti Kino karena pemuda ini rupanya tahan cubitan.

Akhirnya ia berangkat, dan ternyata memang gunungnya tak terlalu tinggi selain juga landai. Betapa benarnya Kino, puncak gunung ternyata memberinya udara segar yang dengan cepat menjernihkan keruh di benaknya. Puncak gunung ternyata mampu menghapus Ayah dari pikirannya. Baru kali ini Rima merasa bisa lepas dari bayang-bayang lelaki tua itu!

Sejak itulah ia terpikat pada Kino, selalu ingin didekatnya, dan berharap pemuda itu juga menyukainya. Tetapi Kino ternyata cuma senang berdekatan. Kino ternyata tak menyukainya sebagaimana ia berharap pemuda itu menyukainya. Kino ternyata hanya mau jadi sahabatnya. Rima sempat terluka, dan berdiri lama di depan cermin: apakah aku kurang cantik?

Tetapi lama kelamaan bisa Rima menerima penolakan pemuda itu, dan mereka kemudian menjadi sahabat-karib saja. Itu pun sudah cukup bagi Rima.

*****

"Hei, melamun lagi!" hentak seseorang.

Rima mengangkat muka, menemukan wajah tegar Yardin, sang pemimpin pendakian. Tersenyum, Rima menarik tangan pemuda itu, mengajaknya duduk dekat-dekat.

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya mahasiswa jurusan sipil yang lebih tinggi dua tingkat dari Rima itu. Ia duduk dekat sekali di sisi gadis itu. Bahu mereka bersinggungan akrab.

"Macam-macam.... Ujian semester, perang di Timur Tengah, nasib Tim Bulutangkis, pengaruh gerhana matahari terhadap kesehatan...," kata Rima sambil menelusupkan tangannya di bawah lengan Yardin.

"Tidak satu pun ada yang relevan untukku," sela Yardin dengan nada mengeluh.

Rima tertawa. Ia tahu, pemuda ini memancing percakapan lebih intim. Pasti pemuda ini ingin Rima menjawab dengan "memikirkan kamu" atau yang semacamnya. Sayang sekali, Rima memang tidak memikirkannya.

"Kenapa, sih, kamu tidak pernah memikirkan sesama mahasiswa?" desak Yardin.

"Lho, kok bisa menyimpulkan begitu. Aku sering memikirkan sesama mahasiswa," sahut Rima menahan senyum.

"Misalnya, memikirkan aku, ...begitu?" ucap Yardin nekad.

"Ya. Aku sering memikirkan kamu," jawab Rima sambil mempererat pelukannya di lengan pemuda itu. Ia memang sayang kepada pemuda yang maha-penolong kepadanya ini. Ia tahu pemuda ini berminat kepadanya. Sangat berminat, bahkan!

"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Yardin menoleh, memandang dari jarak dekat wajah Rima yang tomboy tetapi manis itu. Ia suka pada mukanya yang halus tak berjerawat itu, pada hidungnya yang mungil dan lucu itu, pada matanya yang membola-mempesona itu.

"Banyak!" sergah Rima sambil menyandarkan kepalanya di bahu Yardin.

"Tolonglah, ungkapkan satu saja di antaranya," kata pemuda itu penuh permohonan.

"Perbuatan kamu seminggu yang lalu, misalnya," kata Rima.

Segera Yardin menegakkan duduknya. Sekujur tubuhnya menegang, dan Rima tersenyum sambil tetap menyandar di bahu pemuda itu. Aku menyentuh sebuah titik sensitif, bisik Rima dalam hati.

"Aku, kan, sudah minta maaf, Rima...," kata Yardin dengan suara pelan.

Rima tertawa kecil, "Dan aku, kan, sudah memaafkan."

"Tetapi kenapa diungkit lagi?" tanya Yardin masih dengan suara pelan.

Rima tertawa lagi, "Lho, katanya ingin tahu apa yang aku pikirkan!"

"Berarti kamu belum memaafkan," sergah Yardin cepat.

"Memikirkan dengan memaafkan, kan, bisa sejalan. Bagaimana, sih, kamu!?" sergah Rima tak kalah cepat.

"Malam itu aku tidak bermaksud begitu...," kata Yardin, tetapi segera dipotong Rima,

"Alaaah!... ngga usah diulang. Aku tahu kamu tidak bermaksud meraba-raba dan mengajak bercumbu begitu jauh."

"Ssst!" Yardin menempelkan telunjuk di bibirnya sambil melihat berkeliling. Ia takut ucapan Rima terdengar yang lain, walaupun sebenarnya mustahil karena angin mulai mengencang mengeluarkan suara berkesiut.

Rima tertawa kecil dan dengan suara pelan berkata, "Aku tahu kamu suka, walaupun kamu tidak bermaksud. Aku tahu kamu ingin kita berbuat lebih jauh, walaupun kamu tidak bermaksud. Kenapa, sih, musti minta maaf terus?"

"Jadi, apa yang kamu 'pikirkan' itu?" desak Yardin.

Rima menarik lengan pemuda itu, merapatkannya lebih dekat ke tubuhnya, lalu mencium sekilas pipinya, sambil berbisik, "Aku tidak keberatan, tetapi tidak harus begitu jauh, dan tidak harus menuntut aku jadi pacarmu."

Terdengar Yardin menghela nafas lega dan menundukkan kepalanya. Diambilnya sebutir batu kecil, dilemparkannya ke depan, ke tempat gelap.

"Satu lagi...," kata Rima masih dengan berbisik.

"Apa?" kata Yardin sambil menengok, menemukan sepasang mata bening menatapnya tajam.

"Kalau aku bilang tidak, artinya tidak. Kalau aku bilang mau, bukan berarti seterusnya mau," ucap Rima tanpa berkedip.

Yardin menunduk lagi, lalu berucap pelan, "Padahal aku berharap kamu mau jadi pacarku, Rim. Aku bukan cuma ingin bercumbu."

"I know..," ucap Rima, "Tetapi aku tidak mau jadi pacarmu. Aku tidak mencintaimu, walau aku suka padamu"

"Apakah karena ada yang lain?" desak Yardin.

"Ada," jawab Rima, tetapi buru-buru ia melanjutkan, "Jangan tanya namanya, karena tidak akan kujawab."

Yardin terdiam. Ia mendengar selentingan, salah satu sahabat Rima (semua isi kampus tahu empat sahabat itu: Rima - Ridwan - Tigor - Kino, R2TK) adalah kekasih Rima. Tetapi mana mungkin, karena Rima tetap mau diajak naik gunung terpisah dari sahabatnya, dan tetap mau dicium bahkan diraba-raba seperti minggu lalu. Tetapi Rima juga bukan gampangan, dan Yardin sebetulnya merasa bangga terpilih sebagai orang yang boleh mencumbunya, walau "serba tanggung". Ah, rumit sekali gadis ini, keluh Yardin dalam hati.

"Hei, gantian kamu yang melamun!" sentak Rima.

Yardin menghela nafas dalam-dalam, "Makan malam, yuk!" ujarnya mengalihkan topik.

"Oke," sahut Rima riang, "Tetapi cium dulu, dong!"

Yardin mencium pipi Rima yang dingin karena angin gunung itu, lalu bangkit dan menarik gadis itu ikut bersamanya. Malam itu mereka menyantap lontong yang dibawa dari rumah, dengan lauk dua kerat dendeng manis. Sedap sekali!

******

Jadi kini ada dua hal penting dalam kehidupan Rima: gunung dan lelaki....

Ia menyukai yang pertama. Sedangkan yang kedua... hmmm... ia sering terlibat kontradiksi dan ironi. Ia kehilangan figur Ayah sepanjang hidupnya, sehingga ia berkembang menjadi tomboy. Tetapi pada saat yang sama ia merindukan pelukan-rengkuhan, sehingga ia juga sering berganti pacar, dan sering membiarkan pacar-pacarnya berlaku sebagaimana layaknya lelaki kepada lawan jenisnya.

Bagaimana jika keduanya -gunung dan lelaki- bergabung? Macam-macam pun bisa terjadi. Ada peristiwa yang paling berkesan ketika Kino mencium tetapi menolak ajakan bercumbu (baca Serial Kino, episode... cari ndili, deh!). Ada peristiwa lucu ketika para lelaki berebut membantunya untuk menarik perhatiannya. Ada peristiwa sedih ketika seorang lelaki jatuh dan patah kakinya, sementara Rima adalah satu-satunya wanita saat itu. Ada pula peristiwa bergairah, seperti malam itu ketika Yardin kembali menciumnya di balik batu di seberang api unggun.

"Bibir kamu manis sekali," bisik pemuda itu disela-sela pagutan-kulumannya.

"Itu, kan, rasa dendeng," bisik Rima sambil membiarkan bibir bawahnya digigit perlahan.

Yardin tertawa pelan, "Mmmm...," ia mengulum bibir Rima, "Boleh aku kunyah bibir ini?" bisiknya.

"Jangan," desah Rima, "Nanti aku berubah jadi kuntilanak, lho!"

"Mmmm.. bikin gemes saja kamu," Yardin kembali mengulum bibir Rima dengan Semangat Empat Lima.

"Mmmm...," Rima mengerang. Tangannya merangkul leher pemuda itu. Tubuhnya tersembunyi jaket besar dan bayang-bayang batu yang bergerak-gerak sesuai gerak api unggun.

"Tanganku kedinginan, Rim..," bisik Yardin sambil menelusupkan tangannya ke bawah jaket gadis itu.

"Alaah!.. bilang saja pengin memegang-megang," sergah Rima sambil menggigit bibir Yardin. Pemuda itu mengaduh, tetapi dengan cepat pula menelusupkan tangan ke bawah kaos wol gadis itu.

"Hiiiy... dingin!" Rima bergidik merasakan telapak tangan pemuda itu melintas di atas behanya.

"Nanti juga hangat," bisik Yardin sambil menciumi leher Rima, membuat gadis itu menggelinjang kegelian.

"Aku hitung sampai tiga, kalau tidak segera hangat, kamu harus keluarkan lagi tangan itu!" ancam Rima lalu memulai hitungan, "Satu...."

Yardin tertawa tertahan, menggigit dagu Rima, dan cepat-cepat memasukkan tangannya ke balik beha gadis itu. Hmm.. hangat sekali, dan halus sekali. Tidak terlalu besar, dada yang selalu terbungkus kaos tebal itu. Tetapi tetap saja menggairahkan untuk dielus-elus dan diremas.

"Dua....," Rima melanjutkan hitungan, lalu mengerang, "Oooh...".

Yardin membawa tangannya ke puncak salah satu payudara Rima. Dengan jari-jarinya ia meraba-raba puting yang segera tegak-mengeras.

"Ngg..," Rima mengerang dan mencoba mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu, "Dua setengah....,"

Yardin tersenyum dalam hati, sambil terus mempermainkan puting Rima yang kini sudah sepenuhnya berdiri. Sambil diselingi meremas-remas. Sambil menciumi terus leher yang harum. Rima menggelinjang gelisah.

"Aaah,.. Yardin," Rima mendesah gelisah,"Ngga usah dihitung lagi, ya?"

"Terserah..," jawab Yardin sambil menahan senyum dan menciumi bahu Rima di balik jaketnya.

"Cium, dong ..," desah Rima.

Yardin mengangkat mukanya dari bahu gadis itu dan mulai mencium bibirnya, tetapi..

"Bukan cium bibir..," sergah Rima setelah membiarkan pemuda itu sejenak mengulumnya.

"Oh!.. cium yang itu. Sorry!" kata Yardin sambil melepaskan ciumannya, lalu menelusupkan kepalanya ke bawah, ke balik jaket Rima.

Gadis itu melihat ke sekeliling. Beberapa pendaki tampak asyik bernyanyi-nyanyi di sekitar api unggun. Ada juga yang sudah bersiap tidur meringkuk di sleeping bag. Tidak ada yang melihat ke arah batu tempat mereka bercumbu. Maka dengan hati-hati Rima mengangkat kaosnya dan melebarkan jaketnya untuk menyembunyikan kepala Yardin. Kalau ada orang menengok ke arah mereka, dan kalau pemandangan tak terhalang bayang-bayang, maka akan terlihat Rima seperti sedang memeluk sesuatu yang terbungkus jaket!

Begitu Yardin mulai mencium dan menjilat dan mengulum puncak payudaranya, Rima terpejam nikmat sambil menggeliat dan memeluk erat-erat pemuda itu ke dadanya. Ia bersandar ke batu di belakangnya, membiarkan tubuhnya seperti tersiram air hangat dari ujung rambut sampai ujung jempol kakinya. Nafasnya mulai memburu, apalagi Yardin kadang-kadang menyedot dan menggigit-gigit kecil. Setiap kali pula Yardin melingkar-lingkarkan lidahnya di pangkal puting susunya yang sudah basah itu. Sebuah getaran halus mulai terbentuk di selangkangannya, dan Rima pun merenggangkan kakinya.

Yardin merasakan Rima bergerak-gerak gelisah. Ia menelusupkan satu tangannya ke bawah, menerobos celana jeans yang membungkus ketat pinggang gadis itu. Rima menarik nafas dalam-dalam agar perutnya mengempis dan agar tangan pemuda itu bisa menelusup. Yardin pun tak menunda lagi, merasakan telapak tangannya meluncur deras di atas kulit mulus, lalu tiba di balik celana dalam yang hangat.


Rima mengerang ketika jari tengah Yardin mulai dengan nakal dan cekatan melakukan gerakan-gerakan mengelus sambil menelusup sambil mengitik. Cepat sekali ia merasakan tubuhnya dipenuhi tanda-tanda orgasme. Seluruh otot tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup lima kali lebih cepat. Nafasnya semakin memburu. Pinggulnya terasa penuh. Kewanitaannya terasa geli-gatal-nikmat. Tubuhnya bergetar seperti mobil yang dilarikan kencang tetapi dengan persneling rendah.

Sejenak sebelum dirinya terlena dalam perjalanan menuju orgasme, Rima teringat bahwa pemuda itu belum mendapat imbalan atas gairah yang dibangkitkan di tubuhnya. Betapa egoisnya aku, desah gadis itu dalam hati, lalu mulai menelusupkan tangannya ke bawah perut Yardin. Ia menemukan kejantanan pemuda itu telah menegang-menegak meminta perhatian. Dengan konsentrasi yang terbagi antara menikmati dan memberikan kenikmatan, Rima pun mulai mengelus, meremas, mengurut. Yardin mengerang tanpa melepaskan ciuman dan kulumannya di dada Rima.

Sejalan dengan malam yang bertambah kelam, percumbuan mereka pun semakin bergairah. Gerakan-gerakan mereka semakin cepat, berpadu serasi dan tetap dalam kurungan jaket besar dan terlindung bayang-bayang batu besar.

Rima menjepit tangan Yardin ketika orgasmenya datang tanpa bisa ditahan lagi. Pada saat yang sama, ia mempercepat gosokan tangannya di balik jeans pemuda itu. Yardin mengerang-erang, dan menyedot payudara gadis itu seperti seorang bayi yang kehausan. Rima menahan erangannya dengan susah payah, melentingkan tubuhnya, meregang dan meregang....

"Oooh!" sebuah jeritan kecil tak bisa tertahan keluar dari mulut Rima.

"Uuuh!" Yardin juga mengerang keras ketika ejakulasi yang amat kuat menyentak tubuhnya seperti orang kena setrum 1000 volt.

Salah seorang pendaki samar-samar mendengar jeritan itu di antara nyanyian teman-temannya. Ia menengok ke arah sumber suara, tetapi cuma melihat sebuah batu besar dan kegelapan di sekitarnya. Ia mengernyit, mencoba menembus gelap, tetapi gagal melihat apa-apa.

"Paling-paling si Rima dan si Yardin...," ujar salah seorang pendaki yang sedang meringkuk di dalam sleeping bag ketika melihat temannya celingukan

"Ngapain mereka?" kata pendaki yang masih mencoba-coba mengintip dalam gelap itu.

"Main petak umpet" sahut yang di dalam sleeping bag sambil tertawa.

Pendaki yang tadi mendengar erangan Rima dan Yardin menggeleng-gelengkan kepala sambil berucap pelan, "Asal jangan gituan. Nanti kita semua kuwalat."

Dari dalam sleeping bag, temannya menyahuti sambil menahan tawa, "Jangan kuatir. Paling-paling cuma senggol-senggolan."

Temannya ikut menahan tawa sambil mengeluh, "Kapan aku dapat pasangan untuk senggol-senggolan?"

"Kamu harus lebih sering mandi pagi, baru dapet!" sergah temannya sambil tertawa tergelak.

******

Satu hal yang membuat Rima sendiri heran adalah kenyataan bahwa walaupun pacarnya berganti-ganti setiap tahun, ia tetap bisa mempertahankan kegadisannya. Ia selalu bisa menolak -kadang-kadang dengan kasar- kalau ada lelaki yang mengajak bercumbu lebih jauh. Ia menikmati rabaan dan kelitikan di mana saja di tubuhnya, tetapi ia menolak setiap kali pacarnya mencoba all in. Setiap kali pacarnya sudah siap melanjutkan percumbuan secara maksimal, Rima teringat Ayah dan sebentuk rasa benci segera menyelinap. Maka, setiap kali pula gairah gadis itu seperti api disiram air es. Langsung padam.

Percuma ia dibekali pil anti hamil atau sekotak kondom oleh kakaknya yang tertua. Ia tidak pernah memakainya, karena merasa tidak memerlukannya. Ia menikmati seks, tetapi tidak punya cukup alasan untuk bersetubuh. Baginya, bersetubuh akan menimbulkan persoalan besar. Kenapa? Karena setiap kali gairahnya sedang memuncak, dan setiap kali ia juga sebenarnya ingin melanjutkan percumbuan ke jenjang tertinggi, selalu terbayang peristiwa itu...

Waktu itu ia baru berusia 15 tahun. Sepulang sekolah yang lebih awal dari biasanya, Rima menemukan rumah dalam keadaan kosong, tetapi pintu tak terkunci. Ia heran, tetapi tanpa wasyangka langsung masuk dan menuju dapur untuk minum. Ia memang haus. Bibi Iyem tidak ada, mungkin sedang mengambil jemuran. Mobil BMW Ayah ada di halaman, tetapi Pak Ujang supirnya tidak kelihatan, mungkin sedang tidur-tiduran di gardu jaga.


Setelah minum, Rima melangkah ringan ke tangga menuju lantai dua. Rumah mereka besar sekali dengan 7 kamar dan sebuah ruang keluarga yang luas. Dari ruang keluarga ini ada tangga melingkar ke atas. Kamar tidur Rima ada di lantai dua itu, di sebelah kamar tidur Ibu, yakni sebuah kamar besar yang dibiarkan kosong sejak Ibu meninggal. Menurut Ayah, kamar itu dulunya kamar tidur utama. Kini kamar itu terlalu banyak meninggalkan kenangan tentang Ibu, sehingga Ayah pindah tidur di kamar di bawah. Rima merawat kamar itu, seakan-akan Ibu masih ada.

Sambil menggumamkan lagu kesayangannya, gadis itu melangkah ringan ke kamarnya. Tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar erangan dan rintihan dari kamar sebelah. Sambil mengernyitkan dahi karena keheranan, Rima bersijingkat menuju pintu yang tampaknya tidak tertutup dengan baik. Dengan satu tangan ia mendorong pintu itu, dan apa yang terlihat membuatnya terkesiap.

Di situ, di ranjang besar yang jarang ditiduri itu, terlihat Ayah sedang menggumuli seorang wanita muda yang telanjang bulat. Erangan dan rintihan datang dari wanita itu. Tubuh Ayah juga telanjang dan berpeluh bergerak naik turun penuh energi. Mereka berdua rupanya sedang dalam puncak birahi, sehingga sama sekali tak tahu ada Rima yang berdiri tertegun di pintu. Segalanya terlihat jelas oleh Rima.

Pemandangan itu sangat memukul perasaan si gadis remaja. Hatinya hancur luluh menyadari bahwa Ibu ternyata telah tersingkir jauh dari kehidupan Ayah. Sulit baginya untuk mengerti, mengapa Ayah harus melakukan kegiatan menjijikkan itu di ranjang Ibu. Mengapa ia sanggup melakukannya di bawah foto besar Ibu, di atas seprai putih yang digantinya setiap minggu?

Sejak saat itu, persetubuhan sepasang manusia punya konotasi buruk di benak Rima. Tetapi, akibat pergaulannya, Rima juga tahu bahwa seks itu memberikan kenikmatan. Apalagi kakak-kakaknya sangat liberal, dan membiarkan Rima menonton koleksi video porno mereka. Rima menonton berbagai adegan di layar kaca sejak SMP, tetapi melihat Ayah melakukannya di ranjang Ibu, gadis ini jadi benci pada persetubuhan. Kontradiksi inilah yang terbawa sampai sekarang, membuat hidup Rima juga penuh ironi dan paradoks.

Rima adalah gadis tegar dan cerdas walaupun tidak menolak minum bir sampai mabuk, atau dibawa ke tempat gelap untuk dicumbu. Ia bisa punya kharisma, dan tidak sembarangan pria bisa menjadi pacarnya. Ia sekaligus seorang pemilih, seorang yang choosy, tetapi juga seorang yang setia kepada sahabat-sahabat prianya. Ia bisa terpesona sampai ke tulang sum-sum pada seorang pria (salah satunya Kino), tetapi juga bisa berang dan menghujat pria (salah satunya adalah Ayahnya).

Kekontrasan pun berlanjut di segala aspek: Ia anak orang kaya karena Ayah adalah seorang pengusaha sukses, tetapi pakaiannya sederhana dan hidupnya sama sederhana dengan mahasiswa semacam Kino yang datang dari kota kecil. Ia bisa bergaul dengan yuppies di berbagai night club di ibukota, tetapi tak juga malu makan di warung kecil di seberang kampus.

******

Lalu tentang Kino. Kalau kini ia marah besar kepadanya, itu adalah karena ia tak sanggup melihat pemuda itu terlibat dalam penghianatan seorang istri. Bagi Rima, penghianatan dalam perkawinan adalah sebuah kesalahan besar. Rima tak mau menerima apa pun alasan seseorang berhianat kepada perkawinan. Kehilangan Ibu dan punya Ayah yang amburadul membuat gadis ini mendamba keutuhan keluarga. Ia tak rela ketika tahu Kino memacari istri orang, karena ia ingin pemuda itu tetap menjadi panutannya.

Dengan getir, Rima menyadari, harapan itu semakin pupus. Dengan getir, Rima sadar bahwa ia mungkin harus terus mendaki untuk mencari ketinggian yang paling melegakan. Maka ia pun terus mendaki dan mendaki lagi. Gunung demi gunung ditaklukkannya. Puncak demi puncak didudukinya. Setiap kali hatinya gundah, ia akan mencari gunung untuk didaki. Setiap kali mencapai puncak gunung, ia mendapatkan kelegaan di sana, tetapi setiap kali pula ia harus turun ke dunia yang hiruk-pikuk.

Malam itu, ketika Rima mendengar kabar kecelakaan yang dialami Kino, ia terkesiap dan mengeluh dalam hati, "Mampukah aku mendaki gunung yang satu ini?"

ttt